WHO Peringatkan Israel Invasi ke Rafah Bisa Jadi Pembunuhan Massal

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

WHO memperingatkan Israel invasi ke Rafah bakal menjadi pembunuhan massal di sana. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan akibat jelek dari rencana militer Israel itu.

Ia mengatakan Rafah menjadi tempat berlindung 1,2 juta penduduk Palestina nan sistem kesehatannya sendiri sudah rusak. Invasi dapat meningkatkan nomor kematian dan penyakit secara signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"WHO sangat prihatin operasi militer skala penuh di Rafah, Gaza, dapat menyebabkan banyak pertumpahan darah, dan semakin melemahkan sistem kesehatan nan sudah rusak," kata Tedros di X alias Twitter.

WHO juga mendetailkan akibat lebih lanjut andaikan Israel betul-betul melakukan serangan darat ke Rafah. Selain kematian, invasi disebut bisa membikin jumlah pengungsi melonjak hingga semakin terbatasnya akses kehidupan warga.

"Memperburuk kepadatan penduduk, semakin membatasi akses terhadap makanan, air, jasa kesehatan dan sanitasi, nan menyebabkan meningkatnya pandemi penyakit, memperburuk tingkat kelaparan, dan bertambahnya korban jiwa," pernyataan WHO.

"Sistem kesehatan nan rusak tidak bakal bisa mengatasi lonjakan korban dan kematian nan disebabkan oleh serangan di Rafah."

[Gambas:Video CNN]

Mereka menjelaskan tiga rumah sakit nan saat ini sebagian beraksi di Rafah bakal menjadi tidak kondusif untuk dijangkau pasien, staf, ambulans, dan pekerja kemanusiaan ketika permusuhan meningkat di sana.

"WHO menyerukan gencatan senjata segera dan jangka panjang serta penghapusan halangan dalam pengiriman support kemanusiaan mendesak ke dalam dan di seluruh Gaza, pada skala nan diperlukan," katanya.

Sebelumnya, Kepala Bantuan Kemanusiaan PBB Martin Griffiths menekankan bakal ada "tragedi nan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata" jika Israel tetap nekat melakukan invasi ke Rafah di Gaza.

"Kebenaran nan paling sederhana adalah bahwa operasi darat di Rafah bakal menjadi sebuah tragedi nan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tidak ada rencana kemanusiaan nan bisa melawan perihal itu," ujarnya.

Semua disampaikan merespons Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu nan menegaskan bakal melakukan serangan darat di kota Rafah dengan alias tanpa kesepakatan gencatan senjata nan disepakati dengan Hamas.

Peringatan itu disampaikan Netanyahu beberapa jam sebelum Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dijadwalkan tiba di Israel nan jadi bagian tur terbaru untuk penanganan krisis Timur Tengah.

"Kami bakal memasuki Rafah dan kami bakal melenyapkan batalion Hamas di sana dengan alias tanpa kesepakatan [gencatan senjata]," katanya kepada family beberapa sandera nan tetap ditahan di Gaza, seperti diberitakan AFP, Selasa (30/4).

Serangan militer jawaban Israel terhadap Hamas nan tiada henti hingga sekarang telah menewaskan lebih dari 34.000 orang di Gaza, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Saat ini, gencatan senjata antara Israel dengan Hamas nan ditengahi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Namun, belum menemukan kata sepakat dalam obrolan nan berjalan beberapa hari ini.

(AFP/chri)

Sumber cnn indo
cnn indo