Rupiah Dibuka Ambruk Lagi! Dolar Tembus Rp 16.300

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Petugas menghitung duit  dolar di tempat penukaran duit Dolarindo, Melawai, Blok M, Jakarta, Senin, (7/11/ 2022) Foto: Ilustrasi Dolar dan Rupiah. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali dibuka ambruk sebagai antisipasi pelaku pasar terhadap rilis info inflasi Amerika Serikat (AS) kelak malam.

Melansir info Refintiiv, pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (12/6/2024) mata duit Garuda melemah 0,09% menuju posisi Rp16.300/US$.

Depresiasi rupiah ini melanjutkan pelemahan nan sudah terjadi sejak Senin. Artinya, rupiah sudah mau tiga hari beruntun bergerak di area merah.

Tekanan dolar nan tetap kuat terhadap rupiah tampaknya tetap terus membayangi. CNBC Indonesia memantau indeks dolar (DXY) sudah tiga hari ini menguat signifikan, akumulasinya mencapai lebih dari 1%.

Penutupan kemarin menguat 0,08% ke posisi 105,23 dan pada pagi ini tetap berupaya menguat lagi. Jika DXY terus menguat makan tekanan terhadap rupiah tetap bisa berlanjut.

Perlu dipahamui, kuatnya indeks dolar AS ini bukan tanpa karena lantaran memang terpengaruh dari kehati-hatian pasar terhadap rilis inflasi negeri Paman Sam kelak malam, nan kemudian dilanjutkan pengumuman hasil rapat the Fed.

Sejauh ini, nada hawkish tetap mendominasi pelaku pasar terhadap ekspektasi kebijakan moneter the Fed. Pasar memperkirakan kemungkinan besar suku kembang pada pertemuan pekan ini tetap dipertahankan di level 5,25% - 5,50%.

Sementara penurunan suku kembang pertama kali kemungkinan bakal terjadi mulai September mendatang. Perhitungan CME Fedwatch Tool, sekarang menunjukkan probabilitas pemangkasan suku kembang AS di September mencapai 48,3%.

Sementara itu, pada kemarin Presiden Joko Widodo malah mengatakan bahwa nilai tukar rupiah di kisaran 16.200-16.300 per dolar AS tetap berada dalam posisi nan baik, serta menyebut bahwa semua negara mengalami tekanan nilai tukar mata duit terhadap dolar AS.

Komentar Presiden Joko Widodo tersebut rasanya jadi kontras dengan sikap Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, nan pada April 2024 meminta BUMN menunda pembelian dolar AS dalam jumlah besar guna mengurangi tekanan depresiasi rupiah.

CNBC INDONESIA RESEARCH


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Rupiah Tiga Hari Beruntun Keok, Dolar Tembus Rp16.250/US$!


(tsn/tsn)

Sumber CNBC
CNBC