Penanganan Polusi Udara, Peneliti BRIN Minta Indonesia Belajar dari Cina

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lukman Hakim, mengatakan sumber utama polusi udara adalah industrialisasi, urbanisasi, dan peningkatan konsumsi daya kendaraan bermotor alias sejenisnya. Di kalangan negara dengan perkembangan industri nan pesat, Cina dianggap sukses mengatasi polusi, meski belum mencapai sasaran nan diharapkan.

“Cina berkomitmen untuk menurunkan polusi udara dalam periode nan sangat singkat, dengan menggelontorkan biaya lebih dari US$ 100 miliar," kata Lukman melalui keterangan tertulis pada Kamis, 2 Mei 2024.

Tingkat polusi di Negeri Tirai Bambu tetap tinggi, namun kemajuan penanganannya semakin membaik. Pada 2013, kata Lukman, Beijing merupakan kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Mayoritas emisinya datang dari aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara dan transportasi.

Lukman menyebut keadaan di Cina sebelum reformasi ekonomi pada 1979 sangat memprihatinkan. Reformasi menyebabkan ledakan ekonomi dan urbanisasi nan sigap nan berujung pada peningkatan polusi udara.

Untuk menanggulangi perihal itu, kata dia, Cina berupaya mengurangi emisi dengan pembuatan undang-undang penanggulangan polusi udara. Pemerintah setempat membikin standar dan langkah-langkah kebijakan dalam lingkup perubahan ekonomi.  

Pengendalian itu sempat tidak efektif. Menurut Lukman, kala itu polusi udara merupakan masalah nan tidak krusial di Cina. Prioritas utama di sana adalah pembangunan ekonomi, khususnya pembangunan industri untuk memenuhi industrialisasi nan pesat.

Secara umum, kondisi kehidupan masyakarat sangat jelek dan hanya mementingkan kebutuhan hidup dasar, ialah makanan dan pakaian. Perkembangan industri, penyalahgunaan sumber daya alam, dan kondisi politik di China menyebabkan keterlambatan dalam memahami masalah polusi udara.

Berbenah Saat Pergantian Milenium

Perubahan besar di Cina mengenai kebijakan pengendalian polusi datang dimulai pada era 2000, berupa penerapan standar emisi nan lebih ketat untuk boiler berbahan bakar batu bara pada pembangkit listrik, kendaraan bermotor. Ada juga penerapan National Air Quality Standards (NAAQS). 

Pengendalian emisi berbasis massa menggantikan pengendalian berbasis konsentrasi. Kemauan politik Pemerintah Cina mencegah polusi juga semakin kuat, sama halnya dengan partisipasi publik dan peran masyarakat sipil dalam memerangi polusi udara. Semua perubahan itu bisa ditiru oleh Indonesia.

Iklan

“Perubahan sistem daya dengan peralihan dari batu bara ke gas, serta sentralisasi dan desentralisasi peraturan polusi udara,” tutur Lukman.

Dia mengimbuhkan, Pemerintah Cina berupaya mengurangi polusi udara nan melanda selama bertahun-tahun. Contoh upayanya adalah pemindahan pabrik jauh dari kota besar, penggunaan kendaraan listrik, serta larangan penggunaan batubara di dekat kota.

Indonesia, Lukman menyambung, bisa ikut memahami bahwa pencegahan pencemaran udara lebih krusial dari pengendalian. Komitmen dari pengambil kebijakan dianggap krusial.  

Antisipasi Pencemaran Udara Lintas Negara

Sudah banyak negara nan berupaya menanggulangi pencemaran udara, salah satunya India. Kendati hasilnya belum optimal, India sudah menguatkan standar emisi kendaraan dan industri, serta mempercepat transisi energi.

Pada 2020, ucap Lukman India menggelontorkan biaya sekitar US$ 1,7 miliar untuk memerangi polusi udara di 42 kota nan populasinya menembus satu juta jiwa.

Sebanyak 98 persen masyarakat di sejumlah negara Eropa tinggal di wilayah dengan periode baku mutu udara nan melampaui batas. Inggris dan Italia termasuk negara di Eropa nan telah menerapkan area emisi rendah dan pengurangan beban lampau lintas. Mereka mengarahkan penggunaan kendaraan umum.

Ada juga Polandia nan menawarkan stimulus untuk modernisasi pemanas ruangan. Masyarakat di negara tersebut tidak lagi menggunakan pemanas dari batubara.

Pilihan Editor: Selalu Disebut Dalam Prakiraan Cuaca BMKG, Apa Beda Hujan Ringan, Sedang, dan Berat?

Sumber Tempo
Tempo