Parlemen Korea Selatan Loloskan RUU Investigasi Tragedi Hallowen 2022, Selanjutnya?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Malam nan semestinya menjadi seremoni Halloween nan bebas dari stres setelah dua tahun pembatasan akibat pandemi di jalan-jalan Seoul, Korea Selatan malah berujung tragedi. Penumpukan besar-besaran nan berakibat berdempet-dempetan liar itu menyantap korban nan mendorong perdana menteri negara itu, Han Duck-soo, untuk mengumumkan penyelidikan nan ketat terhadap peristiwa malam itu.

Penumpukan itu terjadi ketika lebih dari 100.000 orang nan berpesta pora pada hari Sabtu beramai-ramai menghadiri pesta di distrik Itaewon di Seoul - sebuah kota metropolitan nan terkenal dengan kondisi kehidupan nan susah dan tempat tinggal nan sempit dan ruang publik nan menghukum penduduknya.

Dilansir dari Independent, para visitor pesta telah memadati distrik tersebut sejak sore hari, namun menurut seorang saksi mata nan berbincang kepada BBC, tanda-tanda nan mengkhawatirkan sudah terlihat.

"Itu sangat gila. Sejak pukul 5 sore ada terlalu banyak orang di jalanan. Jadi saya berpikir, gimana jadinya mulai pukul tujuh alias delapan malam?" tanya Nuhyil Ahammed, 32 tahun.

Sekitar pukul 22.20 waktu setempat, kerumunan orang telah melonjak hingga mencapai jumlah nan tidak kondusif dan situasinya berubah menjadi mengerikan ketika orang-orang nan berada di lereng terjatuh, nan menyebabkan terjepitnya orang-orang.

Seorang korban selamat mengatakan bahwa banyak orang nan jatuh dan saling menimpa satu sama lain "seperti kartu domino" setelah mereka didorong oleh orang lain.

Pada pukul 11 malam itu, Ahammed mengatakan bahwa orang-orang saling mendorong satu sama lain di depan mereka "seperti gelombang".

Pada hari Sabtu, laporan awal tentang himpitan tersebut mengatakan bahwa sekitar 50 orang menderita serangan jantung. Namun ketika lebih banyak info mulai berdatangan, jelas bahwa kejadian tersebut jauh lebih serius.

Salah satu saksi mata nan mengkhawatirkan membandingkan jalan-jalan di Itaewon dengan "stasiun kereta bawah tanah nan macet".

Jumlah polisi nan diturunkan hanya 137 orang, lapor Reuters, dan tidak bisa mengendalikan kerumunan massa.

"Kami tiba sekitar pukul 10 malam untuk pergi ke sebuah klub, namun kemudian memandang orang-orang bertumbangan di jalan," ujar Moon Ju-young, 21 tahun. "Beberapa orang berdarah, nan lainnya berteriak kesakitan."

Parlemen Korsel dan Tragedi Hallowen 2022

Iklan

Dilansir dari Aljazeera, Parlemen Korea Selatan telah meloloskan rancangan undang-undang (RUU) untuk melakukan penyelidikan independen terhadap serangan Halloween tahun 2022 di ibu kota Seoul nan menewaskan lebih dari 150 orang.

Majelis Nasional nan terdiri dari satu bilik dan dipimpin oleh oposisi pada hari Kamis menyetujui langkah tersebut dalam pemungutan bunyi bipartisan dengan 256 bunyi setuju, tiga abstain, dan tidak ada nan menentang. Ini bakal menjadi undang-undang setelah ditandatangani oleh Presiden Yoon Suk-yeol, nan dianggap sebagai formalitas.

Undang-undang ini bakal membentuk komite pencari kebenaran nan terdiri dari sembilan personil nan bakal menyelidiki penyebab terjadinya keributan, gimana pihak berkuasa menanganinya, dan siapa nan kudu disalahkan, sebuah proses nan dapat berjalan hingga 15 bulan.

Agar Tak Terjadi Lagi, Korea Selatan Gunakan AI

Dilansir dari Reuters, Sekelompok orang berdempet-dempetan dan saling dorong  di sebuah gang sempit di Seoul, sebelum melangkah dengan sabar melewati barikade petugas polisi dalam latihan pengendalian kerumunan nan diadakan menjelang peringatan satu tahun serangan Halloween nan mematikan.

Latihan tersebut, nan menampilkan jaringan nan didukung oleh AI nan terdiri dari nyaris 1.000 kamera TV sirkuit tertutup nan dirancang untuk mendeteksi dan memperingatkan terhadap kerumunan orang nan berbahaya, ditampilkan di beberapa layar besar nan disaksikan oleh para petugas nan siap beraksi.

"Latihan ini berfokus pada gimana memastikan keamanan penduduk dengan memantau situasi secara real time dengan support pengetahuan pengetahuan dan teknologi mutakhir," ujar Walikota Seoul, Korea Selatan, Oh Se-hoon.

Sekitar 150 sukarelawan berperan-serta dalam uji coba sistem peringatan awal nan bakal mencakup 909 kamera CCTV di 71 letak pada akhir tahun ini, nan bermaksud untuk menganalisis pergerakan dan kepadatan kerumunan orang sebelum memperingatkan pihak berkuasa tentang tanda-tanda bahaya.

Pilihan editor: Korea Selatan Tingkatkan Peringatan Terorisme di Kantor Diplomatiknya di Lima Negara

Sumber Tempo
Tempo