Orangutan Ini Obati Sendiri Lukanya dengan Daun Akar Kuning, Bikin Peneliti Penasaran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Seekor orangutan di pusat penelitian Suaq Belimbing, wilayah Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Aceh Selatan, menarik perhatian peneliti lantaran bisa mengobati sendiri luka di mukanya dengan daun Akar kuning.

Rakus, demikian nama nan diberikan pada orangutan jantan tersebut, pada suatu hari di bulan Juni 2022, kedapatan menderita luka di bawah mata lantaran berkompetisi dengan orangutan lain.  Apa nan dilakukan Rakus tiga hari kemudian betul-betul menarik perhatian para ilmuwan.

Para peneliti menggambarkan gimana Rakus mengobati luka menggunakan tanaman nan dikenal lantaran sifat pereda nyeri dan mendukung pengobatan luka berkah kandungan antibakteri, anti-inflamasi, anti-jamur dan antioksidannya.

Rakus mengunyah daun tanaman tersebut untuk menghasilkan cairan nan berulang kali diolesi pada lukanya dan kemudian mengoleskan bahan tanaman nan telah dikunyah tersebut langsung ke luka, seperti plester luka nan diberikan oleh dokter, menurut mahir primata dan biologi kognitif Isabelle Laumer dari the Institut Perilaku Hewan Max Planck di Jerman seperti dikutip Reuters, Kamis, 2 Mei 2024.

Rakus juga menyantap tanaman tersebut, tanaman merambat nan selalu hijau nan biasa disebut Akar Kuning - nama ilmiahnya Fibraurea tinctoria, tambah Laumer, penulis utama studi nan diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, membuka tab baru. Tanaman ini jarang dimakan orangutan di area rimba rawa gambut nan menjadi rumah bagi sekitar 150 orangutan sumatera nan terancam punah.

Orangutan sumatera jantan berjulukan Rakus dalam gambar handout nan diambil 25 Agustus 2022. Institut Perilaku Hewan Safruddin/Max Planck/Handout melalui REUTERS

“Sepengetahuan kami, ini adalah kasus pertama nan terdokumentasi mengenai pengobatan luka aktif dengan jenis tumbuhan nan mempunyai faedah medis oleh hewan liar,” kata penulis senior studi Caroline Schuppli, seorang mahir biologi perkembangan di institut tersebut.

Rakus, diyakini lahir pada tahun 1989, adalah orangutan jantan dengan alas pipi besar di kedua sisi wajah - karakter seksual sekunder laki-laki. Rakus adalah salah satu pejantan dominan di area itu.

Mereka mengatakan kepintaran buatan dapat memprediksi jenis tanaman mana nan belum dijelajahi nan berpotensi untuk pengobatan baru.

Para peneliti mengatakan bahwa perawatan luka nan dilakukan sendiri oleh orangutan tersebut bukanlah suatu kebetulan.

"Perilakunya tampaknya disengaja. Dia secara selektif merawat luka wajahnya di flensa kanannya dengan sari tumbuhan, dan tidak menggunakan bagian tubuh lainnya. Perilaku tersebut diulangi beberapa kali, tidak hanya sari tumbuhan tetapi kemudian juga bahan tumbuhan nan lebih padat diaplikasikan sampai lukanya tertutup seluruhnya. Seluruh prosesnya menyantap waktu nan cukup lama,” kata Laumer.

Lukanya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda jangkitan dan menutup dalam waktu lima hari, kata para peneliti.

Iklan

“Pengamatan menunjukkan bahwa kapabilitas kognitif nan dibutuhkan untuk berperilaku – pengobatan luka secara aktif dengan tanaman – mungkin sama tuanya dengan nenek moyang terakhir orangutan dan manusia,” kata Schuppli. “Namun, apa sebenarnya kapabilitas kognitif tersebut tetap kudu diselidiki. Meskipun pengamatan ini menunjukkan bahwa orangutan bisa mengobati luka mereka dengan tanaman, kita tidak tahu sejauh mana mereka memahami prosesnya.”

Nenek moyang terakhir orangutan dan manusia hidup sekitar 13 juta tahun lalu.

Orangutan adalah salah satu monyet besar di bumi - kerabat terdekat manusia - berbareng simpanse, bonobo, dan gorila. Orangutan adalah nan paling tidak berkerabat dekat dengan manusia, namun tetap mempunyai sekitar 97% DNA nan sama dengan manusia.

“Ada kemungkinan bahwa pengobatan luka dengan Fibraurea tinctoria muncul melalui penemuan perseorangan nan tidak disengaja. Seekor orangutan mungkin secara tidak sengaja menyentuh luka mereka saat menyantap Fibraurea tinctoria dan dengan demikian secara tidak sengaja mengoleskan sari tanaman tersebut ke luka mereka,” kata Laumer.

“Tetapi mungkin juga,” kata Laumer, “Rakus mempelajari perilaku ini dari orangutan lain di wilayah kelahirannya.”

Tanaman ini, tersebar luas di Tiongkok, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan wilayah lain di Asia Tenggara, digunakan dalam pengobatan tradisional malaria.

Orangutan adalah mamalia arboreal terbesar di dunia. Orangutan, nan beradaptasi dengan hidup di pepohonan, hidup lebih menyendiri dibandingkan monyet besar lainnya, tidur dan makan buah di kanopi rimba dan berayun dari cabang ke dahan.

“Orangutan mempunyai keahlian kognitif nan tinggi, khususnya pada bagian kognisi fisik,” kata Schuppli. “Mereka dikenal sebagai pemecah masalah nan sangat baik. Orangutan liar memperoleh keahlian mereka melalui pembelajaran sosial observasional, dan keahlian tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Populasi tempat observasi ini dilakukan dikenal dengan kekayaan budayanya, termasuk penggunaan peralatan dalam konteks nan berbeda."

REUTERS

Pilihan Editor Investigasi Tempo dan Amnesty International: Produk Spyware Israel Dijual ke Indonesia

Sumber Tempo
Tempo