Menyusul Kritik dari Israel dan AS, Ini Tanggapan Jaksa ICC

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Kantor kejaksaan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), Jumat, 3 Mei 2024, menyerukan diakhirinya apa nan mereka sebut sebagai intimidasi terhadap stafnya, dengan mengatakan bahwa ancaman semacam itu dapat merupakan pelanggaran terhadap pengadilan kejahatan perang permanen di dunia.

Dalam pernyataan nan diposting di platform media sosial X, instansi kejaksaan ICC mengatakan semua upaya untuk menghalangi, mengintimidasi, alias mempengaruhi pejabatnya secara tidak layak kudu segera dihentikan. Mereka menambahkan bahwa Statuta Roma, nan menguraikan struktur ICC dan wilayah yurisdiksinya, melarang tindakan tersebut.

Pernyataan tersebut, nan tidak menyebut kasus spesifik, menyusul kritik Israel dan Amerika terhadap penyelidikan ICC atas dugaan kejahatan perang nan dilakukan selama bentrok Israel-Hamas di Jalur Gaza, wilayah kantong Palestina.

Baik Israel maupun sekutu utamanya, AS, bukan personil mahkamah ini, dan tidak mengakui yurisdiksinya atas wilayah Palestina. Pengadilan dapat mengadili perseorangan atas dugaan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida.

Pekan lampau Israel menyuarakan kekhawatiran bahwa ICC bersiap mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi pejabat pemerintah atas tuduhan mengenai dengan penyelenggaraan perang melawan Hamas di Gaza.

Menteri Luar Negeri Israel Katz mengatakan Israel mengharapkan ICC untuk "menahan diri untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pejabat senior politik dan keamanan Israel", dan menambahkan: "Kami tidak bakal menundukkan kepala alias merasa gentar dan bakal terus berjuang."

Pada Jumat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan keputusan ICC tidak bakal mempengaruhi tindakan Israel namun bakal menjadi preseden berbahaya.

Pada Oktober, Kepala Jaksa ICC Karim Khan mengatakan pihaknya mempunyai yurisdiksi atas potensi kejahatan perang nan dilakukan oleh pejuang Hamas di Israel dan oleh pasukan Israel di Gaza, nan telah dikuasai oleh Hamas sejak 2007.

Iklan

Seorang ahli bicara Gedung Putih mengatakan pada hari Senin bahwa ICC tidak mempunyai yurisdiksi "dalam situasi ini, dan kami tidak mendukung penyelidikannya".

Rusia mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat bersikap munafik dengan menentang investigasi Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Israel, namun mendukung surat perintah pengadilan untuk menangkap Presiden Vladimir Putin.

"Washington sepenuhnya mendukung, jika tidak mendorong, publikasi surat perintah ICC terhadap kepemimpinan Rusia," kata ahli bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah unggahan di Telegram.

Namun, "sistem politik Amerika tidak mengakui keabsahan struktur ini dalam hubungannya dengan dirinya sendiri dan satelit-satelitnya," kata Zakharova, seraya menambahkan bahwa posisi seperti itu secara intelektual "tidak masuk akal".

REUTERS

Pilihan Editor: Ini Agenda Masa Jabatan Kedua Trump, termasuk Deportasi Massal

Sumber Tempo
Tempo