Jubir Kemlu AS Mundur Imbas Agresi Israel: Kami di Pihak yang Salah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Eks ahli bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Hala Rharrit, mengungkap argumen dirinya melepaskan pekerjaan sebagai diplomat AS.

Kepada CNN International, Rharrit mengaku bahwa dirinya merasa berada di pihak nan salah selama bekerja sebagai diplomat. Perasaan itu pada dasarnya mulai berkecamuk ketika Israel melancarkan agresinya di Jalur Gaza, Palestina.

"Pada dasarnya saya menyadari bahwa kami berada di sisi sejarah nan salah dan kami sedang menyakiti kepentingan kami," kata Rharrit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rharrit merujuk pada support kuat pemerintah AS terhadap Israel dalam perangnya dengan golongan Hamas. Dia menilai support seperti ini tak benar, lantaran baik dirinya maupun rekan-rekannya tak pernah menyangka bahwa bentrok Israel-Hamas bakal menewaskan lebih dari 34 ribu penduduk Palestina.

"[Kami] tahu jelas bakal ada reaksi keras (imbas serangan Hamas 7 Oktober lalu), tapi saya kira tak ada nan memprediksi bahwa hasilnya bakal menewaskan 34.000 orang dan menyebabkan kelaparan di Gaza," ujar dia.

Rharrit merupakan diplomat AS pertama nan mengundurkan diri di tengah perang Israel-Hamas. Dia telah bekerja di Kementerian Luar Negeri AS sejak 2006, dan posisi terakhirnya ialah sebagai ahli bicara bahasa Arab untuk Kemlu.

Selain Rharrit, dua pejabat Kemlu AS lainnya juga ikut mengundurkan diri sebagai protes atas kebijakan AS di Gaza. Mereka adalah Josh Paul dan Annelle Sheline.

Saat bicara, Rharrit mengaku bahwa sebelum ini, tak pernah sedikit pun tebersit pikiran dalam dirinya untuk mengundurkan diri dari posisinya sekarang.

Namun, kebijakan-kebijakan AS mengenai bentrok Israel-Hamas tak bisa dia toleransi. Menurut Rharrit, ada "standar ganda" nan dilakukan AS mengenai bentrok ini.

Rhirrait tak menjabarkan apa corak kebijakan standar dobel tersebut. Ia hanya menyampaikan bahwa poin-poin kebijakan AS selama ini "sangat jauh dari apa nan dilihat orang-orang setiap hari."

Poin-poin itu utamanya "berfokus pada audiens domestik AS."

Meski sudah mewanti-wanti bahwa kebijakan AS tak manusiawi bagi rakyat Palestina, para petinggi Kemlu AS justru meredam dan mengabaikan suaranya.

"Saya hanya direspons: Anda tak mau bekerja," tutur Rharrit.

Dia juga membeberkan gimana pernyataan dan sikap pemerintah AS bertentangan satu sama lain. Misalnya, ketika AS menekan Israel untuk melindungi penduduk sipil dan mengizinkan support kemanusiaan masuk.

Pada saat nan bersamaan, AS justru terus memasok senjata ke Israel.

"Gagasan bahwa kami terlibat dalam pembunuhan penduduk sipil itu adalah perihal nan sangat susah dan menghancurkan bagi seorang diplomat untuk diakui," jelasnya.

"Apa nan Anda lakukan dengan info tersebut jika Anda bukan orang nan bisa mengubah kebijakan?" lanjut Rharrit.

Rharrit memutuskan mundur sebagai ahli bicara Kemlu AS pada 24 April lalu.

Kemlu AS tak memberikan penjelasan unik mengenai mundurnya Rharrit dengan argumen perihal tersebut masalah personal.

Kendati begitu, wakil ahli bicara Kemlu AS Vedant Patel mengatakan bahwa ada semacam saluran di Kemlu di mana para staf bisa membagikan perspektif pandang mereka ketika mereka tidak setuju dengan kebijakan tertentu alias tindakan tertentu nan diambil pemerintah AS.

"Sekretaris membaca setiap kabel saluran perbedaan pendapat dan perspektif pandang nan berbeda dari seluruh pemerintahan. Kami terus menyambut mereka, dan kami pikir itu membantu mengarahkan kami untuk membikin kebijakan nan lebih kuat lagi," ujar dia.

(blq/wiw)

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn indo
cnn indo