Iran Adakan Pembicaraan Nuklir dengan AS Lewat Oman

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta -Iran tetap melakukan perundingan nuklir secara tidak langsung dengan Amerika Serikat melalui Oman, menurut surat berita Iran Etemad pada Kamis, 11 Juli 2024, mengutip pernyataan Penjabat Menteri Luar Negeri Iran Ali Bagheri Kani.

“Pembicaraan tidak langsung sedang dilakukan melalui Oman namun proses negosiasi berkarakter rahasia dan rinciannya tidak dapat diceritakan kembali,” kata Bagheri Kani.

Komentar ini menyusul pernyataan dari Gedung Putih bahwa Amerika Serikat belum siap untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan Iran di bawah presiden nan baru terpilih, Masoud Pezeshkian.

Pezeshkian adalah seorang politikus reformis nan mewakili Tabriz di parlemen, juga mantan menteri kesehatan dan mahir bedah jantung.

Kampanye presiden terpilih ini berfokus pada perlunya Iran terlibat dengan Barat dalam rumor nuklir, juga untuk mendapatkan keringanan hukuman dan memperbaiki kondisi perekonomian negara serta menjauh dari lembah perang regional.

Ia memenangkan pemilihan presiden putaran kedua Iran pada 5 Juli lampau dengan perolehan 53,66 persen suara. Pemerintahan barunya, nan ke-14 setelah kemenangan Revolusi Islam pada 1979, bakal menjabat selama empat tahun mendatang.

Pezeshkian mengatakan dia bakal menghidupkan kembali Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), kesepakatan nuklir Iran berbareng negara-negara Barat personil P5+1 (lima personil tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Uni Eropa (UE), nan dicetuskan pada 2015. 

Namun, kebijakan luar negeri di Iran pada akhirnya ditentukan oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei nan berkedudukan sebagai kepala negara serta otoritas politik dan kepercayaan tertinggi di Iran, menduduki posisi di atas presiden.

Iklan

Khamenei memperingatkan bulan lampau sebelum pemilu bahwa “orang nan berpikir bahwa tidak ada nan bisa dilakukan tanpa support Amerika tidak bakal mengelola negara dengan baik.”

Ketika ditanya apakah Amerika Serikat siap untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan Iran di bawah presiden baru, Penasihat Komunikasi Keamanan Nasional John Kirby mengatakan, “Tidak. Kami tidak dalam posisi bersedia kembali ke meja perundingan dengan Iran hanya berasas kebenaran bahwa mereka telah memilih presiden baru.”

Alasannya, kata Kirby, adalah lantaran Iran tetap mendukung golongan Hamas, Hizbullah, dan Houthi, nan merupakan bagian dari Poros Perlawanan nan didukung oleh Iran. Selain itu, Iran tetap memasok pesawat tak berawak alias drone dan teknologi drone kepada Rusia dalam perangnya di Ukraina, katanya.

Kirby berujar Amerika Serikat bakal memandang apa nan mau dilakukan Pezeshkian sebagai presiden, “tapi sayangnya kami tidak mengharapkan adanya perubahan dalam perilaku Iran.”

Pilihan Editor: Amerika Serikat Kecam Transfer Senjata Canggih Iran ke Houthi, termasuk Rudal Balistik

REUTERS

Sumber Tempo
Tempo