Inovasi dari Individu dan Komunitas Penting untuk Kurangi kasus Infeksi Demam Berdarah Dengue

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Tim Kerja Arbovirosis Kementerian Kesehatan Agus Handito menilai perlu tindakan dan penemuan beragam pihak untuk atasi masalah demam berdarah dengue. "Pentingnya tindakan perseorangan dan kolektif dari organisasi sangat dibutuhkan untuk mengurangi kasus jangkitan demam berdarah dengue hingga mencapai sasaran nol kematian akibat dengue di tahun 2030," katanya dalam keterangan pers nan diterima Tempo pada 10 Juli 2023. 

Prestasi Junior Indonesia (PJI) dan Asia Dengue Voice and Action Group (ADVA), dengan support PT Takeda Innovative Medicines (Takeda) dan Kementerian Kesehatan, mengimplementasikan sebuah terobosan baru dalam edukasi penanganan demam berdarah dengue (DBD) bagi generasi muda. Sejak Februari 2024, program ini telah sukses meningkatkan pemahaman 123 siswa SMA/SMK dari 17 kota/kabupaten di Indonesia mengenai demam berdarah dengue. Program ini juga ikut memberdayakan mereka untuk mengembangkan 41 solusi inovatif pencegahan dan pengendalian demam berdarah dengue di organisasi mereka. Hasilnya, para siswa sukses menggagas beragam buahpikiran brilian, seperti aplikasi seluler nan dapat memberi notifikasi area penularan DBD, program edukasi berbasis proyek nan bekerja-sama dengan pemerintah, serta kitab interaktif edukasi DBD untuk anak-anak.

Agus sangat mengapreiasi aktivitas nan melibatkan anak muda dan masyarakat itu. "Inisiatif ini selaras dengan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025, khususnya dalam aspek peningkatan keterlibatan masyarakat dan pengembangan inovasi,” katanya.

Academic Advisor and Operations Counsel Prestasi Junior Indonesia Robert Gardiner menjelaskan generasi muda, dengan potensi dan semangat nan dimiliki, perlu didorong untuk berperan-serta aktif dalam mengatasi tantangan nan dihadapi masyarakat. Melalui program ini, para siswa memperoleh pengalaman pertama mengeksplorasi demam berdarah dengue secara komprehensif sekaligus kesempatan mentransformasi aspirasi mereka menjadi sebuah karya nyata nan bermanfaat. "Selama proses pembelajaran dan pengembangan ide, mereka juga mengasah keahlian abad ke-21 nan sangat dibutuhkan, seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas,” katanya.

ADVA Steering Committee for Indonesia Rezeki Hadinegoro mengungkapkan, sebagai golongan kerja ilmiah di area Asia nan reguler berbincang dan berbagi pengalaman mengenai pengendalian demam berdarah dengue, inisiatif ini menjadi bentuk nyata dari salah satu konsentrasi kerja timnya dalam meningkatkan partisipasi dan edukasi masyarakat. Generasi muda nan terlibat dalam program ini adalah segmen masyarakat nan sangat krusial dalam upaya penanggulangan DBD. Dengan sumber daya nan lebih baik dan didukung kreativitas, mereka mempunyai keahlian untuk menciptakan pengaruh domino dalam menyebarkan pesan dan semangat bebas dari DBD kepada keluarga, sekolah, dan organisasi mereka. Kami antusias mengimplementasikan inisiatif perdana ini di lima negara di Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.”

Iklan

Kasus demam berdarah dengue menjadi rumor kesehatan masyarakat Indonesia nan semakin urgen saat ini. Hingga pekan ke-22 tahun 2024, Kementerian Kesehatan telah mencatat 119.709 kasus demam berdarah dengan 777 kematian di 34 provinsi di Indonesia.  Angka ini melonjak drastis hingga tiga kali lipat jika dibandingkan dengan periode nan sama tahun lalu. Situasi ini mendorong pengembangan upaya penanganan demam berdarah dengue nan kian inovatif dan melibatkan beragam komponen masyarakat.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines Andreas Gutknecht mengatakan timnya sangat antusias memandang antusiasme para siswa nan mengikuti Dengue Slayers Challenge. "Kami bekerja sama dengan pemerintah, asosiasi medis, perusahaan, sekolah, dan masyarakat untuk memperkuat pencegahan DBD nan komprehensif dan menciptakan lingkungan nan lebih kondusif bagi family dan masyarakat di negeri ini. Bersama-sama, kita mempunyai kekuatan untuk melawan DBD, dan kita kudu bertindak sekarang!”

Dalam Dengue Slayers Challenge, para siswa ditantang untuk menciptakan solusi inovatif pencegahan dan pengendalian DBD berupa media edukasi (Outreach), sistem pengawasan (Surveillance & Epidemiology), alias strategi pengendalian nyamuk (Vector Control: Prophylaxis/Prevention). Untuk mendukung proses eksplorasi dan penyusunan ide, para siswa telah memperoleh lokakarya demam berdarah dengue, training design thinking, serta pendampingan dari mentor mahir di bagian kesehatan. Sebagai puncak program, tim terbaik berkesempatan mewakili Indonesia untuk mempresentasikan buahpikiran mereka kepada organisasi internasional, pemimpin kesehatan masyarakat di pemerintah, dan kreator keputusan pada arena Asia Dengue Summit ke-7 di Kuala Lumpur, 5-7 Juni 2024.

Pilihan Editor: Tips Hindari Gigitan Nyamuk saat Kasus Demam Berdarah Naik

Sumber Tempo
Tempo