Inflasi AS Turun, SdanP 500 dan Nasdaq Justru Beri Respon Negatif

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) sekarang mulai kembali bergolak usai indeks S&P 500 dan Nasdaq mencapai rekor tertinggi. Dua indeks utama Wall Street tercatat mengalami penurunan signifikan usai info inflasi AS rilis dengan hasil sesuai ekspetasi pasar.

Pada awal perdagangan Kamis (11/7/2024), Dow Jones bergerak menguat 0,24% di level 39.817,05 sementara S&P 500 dibuka lebih rendah 0,86% di level 5.585,38, diikuti dengan Nasdaq nan bergerak turun 1,89% di level 18.294,79.

Anjloknya indeks S&P 500 dan Nasdaq disaat info inflasi mengalami penurunan.

Harga konsumen AS terus menurun, info bulan Juni menunjukkan inflasi AS kembali mereda setelah pembacaan nan tak terduga tinggi di awal tahun ini. Laporan baru tersebut dapat membantu memperkuat argumen untuk penurunan suku kembang dari The Federal Reserve (The Fed) pada bulan September.

Harga konsumen turun 0,1% pada bulan Juni dari bulan Mei, dengan inflasi nan dibatasi oleh nilai gas nan lebih rendah dan kenaikan biaya nan lebih mini di toko kelontong. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,0%, turun dari 3,3% pada bulan Mei, nan menunjukkan bahwa inflasi mereda lebih sigap dari nan diharapkan, lantaran para ahli ekonomi nan disurvei oleh FactSet telah memperkirakan peningkatan sebesar 3,1%.

Pembacaan tersebut merupakan nan terendah sejak Juni 2023, ketika nilai juga naik pada tingkat tahunan sebesar 3%.

Ketua The Fed Jerome Powell pada hari Rabu mengisyaratkan "kemajuan besar" dalam memperlambat inflasi ke sasaran bank sentral sebesar 2%. Namun, dia menekankan bahwa bank sentral perlu memandang "lebih banyak info nan baik" untuk mempunyai kepercayaan dalam memangkas suku kembang referensi mereka, nan saat ini berada pada level tertinggi dalam dua dasawarsa sebesar 5,3%, nan telah membikin konsumen dan upaya lebih mahal meminjam duit melalui hipotek dan pinjaman lainnya.

"Perlambatan nilai lebih lanjut nan dikombinasikan dengan pelunakan kondisi pasar tenaga kerja mendukung perubahan pesan dari The Fed, pada pertemuan FOMC bulan Juli, nan membuka pintu bagi pemotongan suku kembang segera setelah pertemuan bulan September," menurut catatan Rubeela Rarooqi, kepala ahli ekonomi AS di High Frequency Economics pada hari Kamis.

Laporan inflasi terbaru mengisyaratkan bahwa inflasi bergerak turun secara berkepanjangan hingga 2%, menurut Olu Sonola, kepala penelitian ekonomi AS di Fitch Ratings.

"Keyakinan nan cukup untuk mulai memangkas suku kembang semakin dekat, tetapi The Fed kemungkinan mau memandang hasil serupa pada bulan Agustus dan September sebelum melakukan pemangkasan suku kembang pertama," tambah Sonola.

Harga bensin turun 3,8% pada bulan Juni setelah turun 3,6% pada bulan Mei, lebih dari sekadar mengimbangi biaya perumahan nan lebih tinggi, menurut nomor nan dirilis Kamis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja. Dan nilai makanan naik 0,2% pada bulan Juni.


Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bermaksud membujuk pembaca untuk membeli, menahan, alias menjual produk alias sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun untung nan timbul dari keputusan tersebut.

Saksikan video di bawah ini:

Daya Beli Turun Saat Harga Bahan Baku Naik, Bisnis 'AYCE' Aman?

Next Article Wall Street Kembali Reli, Pasar Berekspetasi Ekonomi AS "Soft Landing"
(saw/saw)

Sumber CNBC
CNBC