Hukum Makan Buah dan Sayuran Fermentasi dalam Islam, Apakah Halal?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Produk buah dan sayuran fermentasi digemari muslim di Indonesia. Mulai dari acar hingga asinan yang dalam proses pembuatannya mungkin menghasilkan alkohol. Lantas, bagaimana hukum konsumsinya dalam Islam?

Fermentasi adalah salah satu proses pengolahan makanan yang populer. Fermentasi merupakan proses alami ketika mikroorganisme seperti ragi dan bakteri mengubah karbohidrat, seperti pati dan gula, menjadi alkohol atau asam, lapor Hallo Sehat.

Alkohol atau asam itu berperan sebagai pengawet alami dan menghasilkan rasa yang berbeda pada makanan fermentasi. Banyak bahan makanan pun bisa difermentasi, termasuk buah dan sayuran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebut saja asinan buah dan acar sayuran yang banyak disukai orang Indonesia. Rasanya yang asam segar bahkan bisa bikin ketagihan saat dikonsumsi dalam kondisi dingin.

5 Asinan Buah Premium, Isiannya Ada Kiwi hingga AnggurAsinan buah, salah satu makanan fermentasi yang digemari di Indonesia. Foto: instagram

Seperti dibahas di atas bahwa proses fermentasi menghasilkan alkohol, lantas timbul pertanyaan tentang kehalalan konsumsi produk ini bagi muslim. Bagaimana hukumnya?

Halal Corner (1/5/2024) melalui unggahan Instagramnya menjelaskan proses fermentasi memang menghasilkan produk sampingan berupa alkohol atau etanol (C2H5OH).

Secara alami, etanol sudah terdapat pada buah matang seperti durian, nanas, jeruk, dan lainnya. Sementara secara komersial, etanol diperoleh dari hasil sintetik dan fermentasi.

Etanol yang terkandung di dalam makanan secara alami tidak termasuk kategori khamr yang diharamkan. Fatwa MUI No. 10 Tahun 2018 tentang Produk Makanan dan Minuman yang Mengandung Alkohol/Etanol menyebutkan bahwa hanya etanol yang berasal dari khamr yang tidak bisa digunakan untuk produk halal karena bersifat haram dan najis.

Beberapa hal juga tertuang dalam fatwa tersebut, yaitu:

1. Kandungan etanol pada produk akhir makanan tidak dibatasi selama secara medis tidak membahayakan.

2. Kadar etanol pada produk akhir minuman ditoleransi kurang dari 0,5% asalkan secara medis tidak membahayakan.

3. Kadar etanol untuk produk antara (intermediate product) seperti perasa dan bumbu tidak dibatasi, selama penggunaannya pada produk akhir sesuai dengan ketentuan pertama dan kedua.

Selena Gomez Suka Ngemil, Acar Timun Jadi FavoritnyaMakanan fermentasi halal dikonsumsi muslim. Foto: Getty Images/iStockphoto

Pada intinya, proses fermentasi memang membuat kadar alkohol dalam buah dan sayuran meningkat. Namun dalam ambang tertentu, makanan fermentasi ini tidak membahayakan dan bisa dikonsumsi sebagai makanan halal.

Menyoal makanan fermentasi, ternyata Rasulullah SAW juga mengonsumsinya. Ustaz Syam menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mengonsumsi minuman fermentasi. Minuman tersebut berupa rendaman kismis, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis.

"Rasulullah SAW pernah dibuatkan rendaman kismis dalam satu bejana. Kemudian, beliau meminum pada hari itu, hari besok dan hari besoknya lagi," (HR Muslim).

Kemudian, pada sore hari ketiga, beliau memberi air tersebut kepada orang lain. Bahkan disebutkan bahwa rendaman kismis tersebut merupakan minuman kesukaan Nabi Muhammad SAW.

Ustaz Syam menegaskan bahwa fermentasi boleh dikonsumsi, selama bahan awalnya sesuatu yang halal. Ustaz Syam juga mengatakan untuk berpedoman pada MUI mengenai batasan kadar alkohol pada makanan dan minuman.

Dikutip dari berbagai sumber, MUI sendiri menetapkan bahwa kadar alkohol pada makanan diambil 0.5% sebagai bentuk kehati-hatian dalam batas aman kandungan alkohol pada makanan dan minuman.

(adr/odi)

Sumber Detik Food
Detik Food