Hamas Tuding Netanyahu Tak Niat Capai Kesepakatan Gencatan Senjata

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Hamas menilai pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpotensi menggagalkan prospek gencatan senjata di Gaza. Mereka menyatakan Netanyahu adalah pihak nan melemahkan semua proses perundingan belakangan ini.

Pernyataan tersebut merujuk pada penegasan Netanyahu Israel bakal tetap serang Rafah dengan alias tanpa kesepakatan gencatan senjata. Israel juga disebut bakal balas Palestina jika ICC merilis perintah penangkapan Netanyahu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Netanyahu adalah pihak nan menghalangi semua putaran perbincangan dan perundingan sebelumnya, dan jelas dia tetap bakal melakukan perihal itu," kata pejabat tinggi Hamas Hossam Badran seperti diberitakan AFP, Jumat (3/5).

Ia mengatakan Hamas saat ini tetap melakukan perbincangan internal dengan ketua dan sekutu sebelum mengirimkan kembali perwakilan ke Kairo untuk melanjutkan perundingan gencatan senjata.

Namun, dia memperingatkan pernyataan berulang kali dari Netanyahu bahwa Israel bakal mengirimkan pasukan ke Rafah telah menjadi pertimbangan Hamas dan berpotensi menggagalkan kemungkinan mencapai kesepakatan.

"Dia tidak tertarik mencapai kesepakatan, sehingga dia menyampaikan kata-kata di media untuk menggagalkan upaya-upaya nan dilakukan saat ini."

[Gambas:Video CNN]

Mediator dari Mesir, Qatar dan Amerika Serikat telah mengusulkan kesepakatan nan bakal menghentikan pertempuran selama 40 hari dan menukar sandera Israel dengan ribuan tahanan Palestina.

Hal tersebut berasas rincian nan pernah dirilis Inggris. Namun, hasil dari perundingan tetap sangat tidak menentu dengan pembahasan jumlah sandera nan dapat dibebaskan dan perbedaan besar ruang lingkup perjanjian.

Badran menegaskan tujuan Hamas mengikuti perundingan adalah gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan secara menyeluruh dan komprehensif dari Jalur Gaza.

Tujuan tersebut bertentangan dengan pernyataan Netanyahu, nan telah berjanji Israel bakal terus memerangi Hamas, termasuk di Rafah, letak 1,5 juta penduduk sipil berlindung dalam kondisi nan sempit.

Kepala biro politik Hamas nan berbasis di Qatar, Ismail Haniyeh, mengatakan mereka segera mengirim delegasi kembali ke Mesir dengan tujuan mencapai kesepakatan nan "mewujudkan tuntutan rakyat kami."

Haniyeh lebih lanjut mengatakan Hamas sedang mempelajari proposal terbaru dari Israel dengan "semangat positif."

Kesepakatan apa pun nan dicapai nantinya menjadi nan pertama sejak gencatan senjata satu minggu pada November 2023 nan mengakibatkan 80 sandera Israel ditukar dengan 240 tahanan Palestina.

Israel memperkirakan tetap ada 129 sandera di Gaza dan militer Israel mengatakan 35 di antaranya tewas.

Serangan Hamas di Israel selatan mengakibatkan kematian 1.170 orang, sebagian besar penduduk sipil, menurut penghitungan AFP atas nomor resmi Israel.

Gempuran jawaban Israel terhadap Hamas telah menewaskan lebih dari 34.600 orang di Gaza, sebagian besar wanita dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

(AFP/chri)

Sumber cnn indo
cnn indo