Bos PPI soal PPP Gaduh Gagal ke Senayan: Tak Perlu Tangisi Susu yang Tumpah

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Jakarta -

PPP tidak mencapai ambang batas parlemen atau parliamentary period (PT) 4% atau dinyatakan gagal dalam Pileg 2024. Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno mengatakan bahwa sejak awal banyak survei yang memprediksi PPP tidak lolos.

"Pertama, sejak lama PPP itu diwarning oleh berbagai survei yang mengatakan PPP tak lolos parlemen. Jikapun PPP lolos parlemen dalam survei, itu dalam logika hitungan mania separator of error. Ini yang sepertinya telat diantisipasi PPP dalam pileg 2024. Survei memang bukan hasil resmi pemilu, tapi survei kerap jadi petunjuk soal elektabilitas partai," ujar Adi Prayitno kepada wartawan, Sabtu (15/6/2024).

Adi Prayitno menyebut pengusungan Ganjar Pranowo-Mahfud Md di Pilpres 2024 juga menjadi faktornya. Karena, ia menilai kader PPP lebih banyak memilih Anies-Cak Imin dan Prabowo-Gibran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kedua, secara umum pilihan politik elit PPP mengusung Ganjar-Mahfud di pilpres bertolak belakang dengan suara kader mereka di bawah yang condong ke Anies dan ke Prabowo. Matoriyas ground konstituen PPP pilih Anies, lalu Prabowo, terakhir ke Ganjar. Ada spread elite dan kader di bawah," katanya.

Lebih lanjut, selain itu, katanya pemilih PPP disebut cenderung pada kategori generasi tua. Sementara, kata Adi, pemilih di Pemilu 2024 didominasi oleh generasi muda.

"Ketiga, PPP sepertinya kurang sigap menangkap perubahan perilaku pemilih tanah air. Di pileg 2024 pemilih muda mencapai 60 persen lebih dengan karakteristik pemilih yang berbeda dengan generasi tua. Jumlah pemilih muda mayoritas. Sementara ground pemilih PPP adalah pemilih tua dan pemilih islam tradisional di pedesaan yang dalam banyak hal telat beradaptasi dengan perubahan sikap pemilih," ujarnya.

"Nasi sudah jadi bubur. Tak perlu lagi menangisi susu yang sudah tumpah. PPP harus lekas move 1 mengonsolidasi ground pemilihnya yang tentu sangat berduka. Pilkada 2024 jadi momentum PPP bangkit dengan memajukan kader terbaik mereka dalam pilkada. Kader ppp yang terpilih di pilkada nantinya jadi ujung tombak menghadapi pileg 2029," tambahnya.

Eks Wakil Ketua Umum PPP Zainut Tauhid Sa'adi sebelumnya mengaku prihatin karena suara PPP dalam pemilihan umum 2024 tidak mencapai ambang batas parlemen atau parliamentary period (PT) 4%. Zainut meminta elite meminta maaf dan mengundurkan diri dari jabatan.

"Sehubungan dengan tidak lolosnya PPP pada ambang batas Pemilu tahun 2024, sebagai orang yang pernah dibesarkan di PPP saya merasa sangat prihatin melihat nasib PPP yang tidak lolos PT dalam Pemilu 2024," kata Zainut dalam keterangan yang diterima, Sabtu (15/6).

"Menurut saya hal ini merupakan musibah besar bagi seluruh kader dan simpatisan PPP yang selama ini setia dan istikamah (konsisten) memberikan kepercayaan kepada PPP sebagai wadah perjuangan dan penyalur aspirasi politiknya," imbuhnya.

Zainut menilai akan lebih bijak elite tertinggi partai meminta maaf sambil mengundurkan diri dari jabatannya.

"Akan lebih bijak jika permohonan maaf itu disertai dengan pernyataan pengunduran diri elit tertinggi partai dari jabatannya secara ikhlas dan legowo," pungkasnya.

(azh/dhn)

Sumber Detik News
Detik News