Awas Kering! Dolar AS Lagi Jadi Incaran Warga RI

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Ilustrasi Dolar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima (VIP) Money Changer, Menteng, Jakarta, Rabu (11/10/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Ilustrasi Dolar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima (VIP) Money Changer, Menteng, Jakarta, Rabu (11/10/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia-Ekonom menilai sejumlah aspek dalam negeri ikut menyumbang pelemahan Rupiah hingga nyaris menembus level Rp 16.300. Musim ibadah haji dan pembayaran utang pemerintah dinilai ikut berkontribusi.

Senior Executive Vice President Treasury & International BCA, Branko Windoe mengatakan pelemahan Rupiah tersebut tidak hanya terjadi lantaran aspek eksternal, seperti indeks dolar nan menguat. Dia mengatakan pelemahan Rupiah belakangan ini terjadi lantaran permintaan dollar dalam negeri sedang tinggi.

"Kita di musim permintaan dolar tinggi," kata Branko dikutip, Rabu, (12/6/2024).

Branko mengatakan permintaan dolar nan tinggi itu disebabkan oleh keperluan impor, pembayaran kembang utang pemerintah dari pinjaman luar negeri. Selain itu, kata dia, musim haji juga menyebabkan permintaan dolar dalam negeri meningkat nan ikut berkontribusi pada pelemahan rupiah.

"Bulan ini adalah pembayaran angsuran alias kembang pinjaman luar negeri, ada pula musim jemaah haji, ini memang perlu dolar," katanya.

Branko meyakini setelah musim permintaan dolar tinggi ini berlalu, maka rupiah bakal berpotensi menguat. Dia memperkirakan penguatan itu bakal terjadi pada akhir bulan Juni alias pada kuartal II 2024.

"Harapan kami lewat dari bulan ini alias akhir Q2 mungkin rupiah bakal lebih supported," katanya.

Sebelumnya, Rupiah kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), tertekan indeks dolar (DXY) nan tetap naik.Melansir data Refinitiv, pada pembukaan pasar Selasa pagi (11/6/2024) pukul 09.23 WIB, rupiah melemah tipis 0,15% ke posisi Rp16.300/US$. Depresiasi ini melanjutkan koreksi dalam kemarin nan menandai rupiah koreksi dua hari beruntun.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penguatan dollar lebih disebabkan pada pelemahan mata duit utama dunia, seperti Euro. Dia bilang pelemahan Euro membikin mata duit asia dan dunia ikut melemah.

"Belakangan, sebelum info tenaga kerja AS dirilis kita dengar ECB (The European Central Bank) dan bank sentral Kanada memangkas suku bunganya," kata dia.

"Ini memberikan akibat selisih suku kembang antara Eropa dan US semakin besar. Akhirnya mendorong pelemahan Euro," kata dia.

Josua menjelaskan Euro merupakan mata duit nan berat kontribusinya pada pembentukan indeks dolar banget besar mencapai 57%. Karena itulah pelemahan Euro pada akhirnya ikut berakibat pada pelemahan mata duit Asia.

"Dalam basketnya dxy, Euro itu bobotnya cukup besar, sekitar 57%, sehingga dampaknya langsung terasa," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Penyebab Dolar Tembus Rp15.800: AS Hingga Sengketa Pemilu di MK


(rsa/mij)

Sumber CNBC
CNBC