AS Jadi 'Dalang' Anjloknya Kripto Hari Ini, BTC Sentuh US$ 67.000

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar mata uang digital melemah berjamaah hari ini, Rabu (12/6/2024) di tengah sikap wait and see pelaku pasar perihal info inflasi Amerika Serikat (AS) dan suku kembang bank sentral AS (The Fed).

Merujuk dari CoinMarketCap pada Rabu (12/6/2024) pukul 06:26 WIB, pasar mata uang digital kompak ambruk. Bitcoin turun 3,06% ke US$67.370,14 dan secara mingguan berada di area negatif 4,46%.

Ethereum berada di area merah 4,82% dalam 24 jam terakhir dan dalam sepekan melemah 8,29%

Solana ambles 6,05% secara harian dan secara mingguan ambruk 12,92%.

Begitu pula dengan Dogecoin nan melemah 4,53% dalam 24 jam terakhir dan dalam tujuh hari terakhir ambruk 14,33%.

CoinDesk Market Index (CMI) nan merupakan indeks untuk mengukur keahlian tertimbang kapitalisasi pasar dari pasar aset digital turun 3,49% ke nomor 2.641,46 Open interest terdepresiasi 3,28% di nomor US$67,57 miliar.

Sedangkan fear & greed index nan dilansir dari coinmarketcap.com menunjukkan nomor 60 nan menunjukkan bahwa pasar berada di fase optimis dengan kondisi ekonomi dan industri mata uang digital saat ini.

Dikutip dari coindesk.com, kemunduran mata uang digital ini menyebabkan lebih dari US$250 juta posisi terlikuidasi dalam perdagangan derivatif dengan leverage di semua aset kripto.

Lebih lanjut, info CoinGlass menandai penurunan leverage signifikan kedua dalam seminggu setelah likuidasi US$400 juta pada hari Jumat (7/6/2024).

Untuk diketahui, likuidasi terjadi ketika bursa menutup posisi leverage lantaran hilangnya sebagian alias seluruh duit awal pedagang, alias "margin", lantaran pengguna kandas memenuhi persyaratan margin alias tidak mempunyai cukup biaya untuk menjaga posisi tetap terbuka.

Salah satu argumen di kembali kemunduran ini adalah penanammodal "mengurangi risiko" aset mata uang digital menjelang laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Mei malam hari ini dan pertemuan The Fed, kata hedge fund QCP dalam pembaruannya.

Investor bakal memantau prospek suku kembang personil Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) nan disebut "dot plot" untuk memandang berapa banyak penurunan suku kembang nan diproyeksikan oleh para kreator kebijakan untuk tahun ini mengingat pembacaan inflasi nan kaku baru-baru ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Investor Retail Skeptis Soal Bitcoin, Pasar Kripto Ambruk


(rev/rev)

Sumber CNBC
CNBC