Ancaman Hukum Pidana untuk Penelantaran dan Penyiksaan Hewan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Tak hanya penganiayaan terhadap orang lain, melakukan penyiksaan hewan pun ada hukuman norma pidana.

Hewan secara alami mempunyai keahlian untuk mencari makan sendiri, selain jika mereka telah dijinakkan alias diadopsi oleh manusia. Dalam perihal ini, semua kebutuhan hewan tersebut menjadi tanggung jawab dari pemiliknya.

Sayangnya, kadang kita menemui kasus di mana pemilik hewan mengabaikan tanggung jawab mereka dengan tidak menyediakan makanan, air, dan kebutuhan lain nan diperlukan oleh hewan piaraan mereka. Tindakan semacam ini sering kali disengaja dan dapat menyebabkan penderitaan alias apalagi kematian hewan tersebut.

Pasal mengenai perlindungan hewan

Dilansir dari Jurnal Scientia Indonesia berjudul “Legal Protection Liability for Pet Abuse that Happens in Indonesia”, perlindungan dan kesejahteraan hewan di Indonesia diatur dalam beragam pasal, termasuk Pasal 302 dan Pasal 540 dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 nan telah direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan, serta Peraturan Pemerintah No. 95 Tahun 2012 tentang kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan. 

Tujuan dari regulasi-regulasi ini adalah untuk melindungi hewan dari tindakan pidana nan dilakukan oleh perseorangan di Indonesia. Selain itu, hewan juga mempunyai lima asas kesejahteraan nan kudu dijamin, ialah kebebasan dari rasa haus, lapar, dan malnutrisi, kebebasan dari rasa sakit dan ketidaknyamanan, kebebasan dari rasa takut dan tekanan, kebebasan dari cedera dan luka, serta kebebasan untuk mengekspresikan perilaku alami mereka.

Sanksi hukum pidana penyiksaan dan penelantaran hewan peliharaan

1. Menurut UU No UU No. 41 Tahun 2014,

Dilansir dari sippn.menpan.go.id, UU No UU No. 41 Tahun 2014 berbunyi: “Setiap Orang nan menganiaya dan/atau menyalahgunakan hewan sehingga mengakibatkan abnormal dan/atau tidak produktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 bulan dan paling lama 6 bulan dan denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah).”

Pasal 91B (1) Pasal UU No.41 Tahun 2014

"Setiap Orang nan mengetahui adanya perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66A ayat (1) dan tidak melaporkan kepada pihak nan berkuasa sebagaimana nan dimaksud dalam Pasal 66A ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 bulan dan paling lama 3 bulan dan denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah)."

Iklan

2. Menurut KUHP

Dilansir dari dntlawyers.com, menelantarkan hewan peliharaan dapat dipidana penjara paling lama 9 (sembilan) bulan penjara alias pidana paling banyak Rp. 4.500.000,- (empat juta lima ratus ribu rupiah). Hal tersebut sebagaimana diterangkan dalam Pasal 302 ayat (1) nomor 2 dan Pasal 302 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Pasal 302 ayat (1) nomor 2 KUHP

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan alias pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah lantaran melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan

barang siapa tanpa tujuan nan patut alias dengan melampaui pemisah nan diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan nan diperlukan untuk hidup kepada hewan, nan seluruhnya alias sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, alias kepada hewan nan wajib dipeliharanya.

Pasal 302 ayat (2)

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, alias abnormal alias menderita luka-luka berat lainnya, alias mati, nan bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, alias pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, lantaran penganiayaan hewan.

Dengan demikian, menelantarkan hewan dapat dipidana penjara paling lama 9 (sembilan) bulan penjara alias pidana denda paling banyak Rp. 4.500.000,- (empat juta lima ratus ribu rupiah).

Pilihan Editor: Marak Kasus Penyiksaan Hewan, Ini Jerat Hukum Bagi Pelakunya

Sumber Tempo
Tempo