Amnesty International Ungkap Rentetan Kekerasan Polisi Terhadap Mahasiswa di Makassar

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta - Amnesty International Indonesia mendesak polisi untuk membebaskan semua mahasiswa peserta tindakan pada seremoni Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional di Makassar.  

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan merujuk pada laporan  Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, ada dua kejadian dugaan kekerasan dan penangkapan abdi negara kepolisian kepada mahasiswa di dalam lingkungan universitas di Kota Makassar.

Penangkapan itu berjalan dua hari berturut-turut di letak berbeda. Dua letak tersebut ialah di Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Muhammadiyah Makassar. "Informasi nan didapat dari LBH Makassar mengungkapkan bahwa polisi bertindak represif ke dalam kampus UNM Gunung Sari setelah para mahasiswa mengikuti unjuk rasa memperingati Hari Buruh," kata Usman dalam keterangan tertulis pada Jumat, 3 Mei 2024.

Aksi mahasiswa UNM Gunung Sari itu berjalan di flyover dan di depan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu 1 Mei 2024. Unjuk rasa berhujung pukul 17.00 dan para mahasiswa UNM kembali ke kampus mereka. Menurut dia, sesampai di kampus, para mahasiswa menemukan sekelompok orang tak dikenal dan bukan bagian dari massa tindakan melakukan pembakaran ban di depan gerbang UNM di Jalan Pendidikan. 

"Para mahasiswa itu tidak menghiraukan tindakan bakar ban dan tetap melangkah ke sekretariat lembaga masing-masing," tutur dia, merujuk pada catatan LBH Makassar. 

Menurut Usman, sekitar pukul 18.50 terjadi beberapa tembakan gas air mata nan mengarah ke dalam kampus.Tembakan ini disusul penyerbuan puluhan abdi negara bersenjata dan berseragam lengkap. Selanjutnya abdi negara melakukan penyisiran dengan langkah memaksa masuk ke beragam ruangan sekretariat lembaga kemahasiswaan. "Tindakan abdi negara apalagi mendobrak salah satu pintu ruang perkuliahan hingga rusak," ujarnya. 

Berdasarkan pengakuan seorang mahasiswa UNM, sebelum masuk ke dalam kampus, rombongan abdi negara kepolisian sempat menembakkan gas air mata sekitar empat kali. Lalu merangsek masuk dan menangkap mahasiswa secara paksa. Penangkapan ini terjadi saat mahasiswa berada di dalam Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosiologi-Hukum (FIS-H). Termasuk sekretariat lembaga himpunan. 

Usman mengatakan, beberapa mahasiswa dilaporkan dipukul menggunakan pentungan. Sebanyak 43 mahasiswa BEM FIS-H dan mahasiswa Fakultas Ekonomi kemudian dikumpulkan di depan parkiran FIS-H. "Mahasiswa dipaksa membuka baju, satu persatu rambut mereka ditarik dan wajah difoto secara paksa. Mereka ditanya identitas, nomor ponsel, alamat, dan diancam bakal dilaporkan kepada pihak universitas," tutur dia. 

Menurut Usman, pihak kepolisian Makassar kepada media, mengatakan telah menangkap lima orang dengan argumen membakar ban dan melempari abdi negara dengan batu saat polisi membubarkan massa di depan kampus.  

Tak berakhir di situ. Keesokan harinya, Kamis 2 Mei 2024, kembali muncul kejadian antara polisi, mahasiswa, dan penduduk di Makassar. Seperti diberitakan media di Makassar, menyebut polisi menangkap setidaknya 23 mahasiswa. Penangkapan itu terjadi saat mahasiswa memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan unjuk rasa di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Kamis, 2 Mei 2024.

Iklan

Para mahasiswa tergabung dalam Aliansi BEM se-Makassar menggelar tindakan memperingati Hardiknas di sejumlah lokasi. Termasuk di Jalan Sultan Alauddin. Mereka menyuarakan agar diwujudkan pendidikan gratis, tolak pendidikan mahal, reformasi kurikulum serta peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. "Termasuk pemerataan pendidikan di Indonesia," ucapnya. 

Menurut Usman, dari info dan pemantauan LBH Makassar, total 51 orang, terdiri dari mahasiswa dan penduduk nan ditangkap dan dibawa ke Polrestabes Makassar untuk diinterogasi. Warga dan mahasiswa nan ditangkap terdiri dari 49 orang laki-laki dan 2 perempuan.

Tindakan represif itu bermulai di titik pertama di depan Universitas Islam Negeri (UIN). Dan titik kedua terjadi di Universitas Muhammadiyah Makassar. "Aparat kepolisian merangsek masuk hingga ke dalam kampus," ucap dia. 

LBH Makassar mengungkapkan, dalam rekaman video amatir, polisi dengan sadis melakukan penangkapan secara acak. Pengejaran juga dilakukan dengan menggunakan motor. Berdasarkan keterangan saksi mata mahasiswa di letak kejadian, memandang tindakan kekerasan abdi negara menyebabkan mahasiswa nan ditangkap mengalami luka lebam hingga berdarah. "Diduga akibat kekerasan bentuk alias pemukulan oleh abdi negara kepolisian," kata Usman.

LBH Makassar mengantongi info bahwa sebanyak 24 mahasiswa dari Unismuh diserahkan ke Unit 1 Tipidum Polrestabes Makassar. Sedangkan mahasiswa dari UIN tetap dalam proses identifikasi. Sejak 2 Mei, pukul 21.25 WITA, pihak Polrestabes Kota Makassar belum memberikan akses support norma kepada tim norma Yayasan Lembaga Hukum Indonesia (YLBHI), LBH Makassar, kepada mahasiswa dan warga.

Alasan belum memberikan akses support norma kepada mahasiswa dan penduduk nan ditangkap, lantaran kepolisian tetap melakukan pemeriksaan lanjutan. Kepada media, kepolisan menyebut sebanyak 19 mahasiswa ditangkap di depan Unismuh Makassar. Aparat menyatakan menangkap 4 mahasiswa di depan UIN Alauddin Makassar.

"Kepolisian berdasar bahwa para mahasiswa peserta tindakan melanggar patokan jam demo dan memblokade jalan hingga malam hari sehingga mengganggu ketertiban umum," kata Usman.

Pilihan Editor: Amnesty International Kecam Polisi Masuk ke dalam Kampus dan Menangkap Mahasiswa di Makassar

Sumber Tempo
Tempo